Puisi Radar Bojonegoro, 3 Agustus 2014

Pengantar: Saya minta tolong sekali lagi kepada teman-teman, sebelum membaca tulisan saya ini untuk menyumbangkan Surat Fatihah untuk kiai tercinta saya, K.H. Dimyati Ihsan yang telah bernaung di bawah Kubah Cinta-Nya.
Terimakasih dan selamat membaca. Salam.



Tubuh Air Mata

dan air mata membentuk tubuhku
sebab jasad jumudmu telah menjelmabatu
ditumbuhi bunga warna-warni
dirambati alfabeta inkripsi

Tuban, 2 Maret 2014


Aku MasihMenyimpannya

aku masih menyimpannya, kiai
sepotong kulit kijang
dengan khat arab di atasnya

entah mantra apa yang kau tulis
engkau menulisnya begitu saja
dengan misk dan surat fatihahsebagai pembuka
jemarimu seolah dituntun takdir
menari di atas sana; menuliskansabda dan doa

aku masih menyimpannya, kiai
kenang-kenangan darimu semasa akunyantri dulu
kini, ketika kebutuhan menuntunkumewiridkannya
kuwiridkan pula namamu;
sebaris namanya yang tinggal nisandi dada,
seperti sepotong kulit kijangpemberianmu
yang kuawetkan sekian lama

Rembang, 26 Maret 2014


Badai Duka
: K.H. Dimyati Ihsan (alm)

tak terasa
sudah setahun lalu
langit mataku
menghujankan airnya
dengan angin badai duka
bersama badai duka santri lainnya
di sisi pusaramu

Rembang, 26 Maret 2014


Berziarah
: K.H. Dimyati Ihsan (alm)

aku tak akan lagi
menyiramkan air mata,
menaburkan bunga warna-warni, atau
menyiramkan minyak wewangi
di antara dua nisanmu

aku tak akan lagi menunduk di depanpusara ini
sebab aku masih tak percaya
engkau telah pergi

Lasem, 31 Maret 2014

Waqaf
: K.H. Dimyati Ihsan (alm)

lagi-lagi aku tak dapat melanjutkan
membaca surat ini hingga selesai dipenghujung surat

pada ayat ke sekian dari suratAl-Qur'an
kenangan itu terulur kembali
tentang lelaki berambut putih,
berbaju putih
bersarung kotak-kotak putih
tidur di sebuah ruang yang serba putih
begitu nyenyak
seolah tak ada yang mampumengusiknya
bahkan serak tangis dan deras airmataku
tak sanggup membangunkannya

Lasem, 31 Maret 2014

Comments